|
MENGENALI SISWA UNDERACHIEVER.
oleh : Ninik Tri Maria S.Psi
“Ada dua cara menghayati kehidupan. Yang satu adalah seolah-olah mukzizat itu tidak pernah ada. Yang lain adalah seolah-olah segala sesuatu merupakan mukzizat” (Albert Einstein).
Kalimat diatas diucapkan oleh ahli Fisika yang sangat sadar dengan kelebihannya, Albert Einstein. Beliau adalah Fisikawan abad ini yang memberikan pengaruh besar bagi kemajuan ilmu Fisika. Kalimat yang diucapkan di atas sesungguhnya merupakan refleksi dari apa yang dialaminya dalam hidup sampai menjadi seorang ilmuwan besar yang sangat disegani. Einstein sangat mengerti benar hal ini karena saat masa kecilnya, ia sempat dianggap sebagai anak yang underchiever
Menyadari akan kelebihan diri adalah hal yang mudah dan dapat dilakukan semua orang. Namun, memanfaatkannya secara maksimal segala kelebihan yang sudah dimiliki tidak semua orang bisa melakukannya karena diperlukan proses belajar, pembiasaan dan dukungan lingkungan.
Underachiever/underachievement adalah suatu keadaan dalam diri anak/siswa di mana terdapat kesenjangan antara antara potensi prestasi (expected achievement) dan prestasi yang diraih (actual achievement). Menurut Davis dan Rimm (dalam Munandar 2004:238) underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan adalah jika ada ketidaksesuaian antara prestasi sekolah dan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes intelegensi, prestasi atau kreativitas, atau dari data observasi, di mana prestasi sekolah nyata lebih rendah daripada tingkat kemampuan’. Underachievement pada siswa sangat tampak dari emosi dan motivasinya yang tidak menyadari potensinya, mempunyai target dan harapan yang terlalu rendah serta takut mengalami kegagalan.
Menurut Ruth Peter, Ada beberapa kriteria siswa dengan kecenderungan underachiever yaitu:
1. The If-then student
Siswa dengan kondisi ini memiliki kecenderungan untuk selalu berpikir bahwa urusan hari ini adalah untuk hari ini dan mengapa harus memikirkan sesuatu untuk hari esok..
2. The Chamelon Student
Anak-anak yang termasuk dalam model ini menunjukkan perilaku yang menghormati dan mengikuti lingkungan yang menuntutnya untuk menunjukkan perilaku tertentu, tetapi ia dapat sangat tidak bertanggung jawab ketika mereka mendapatkan lingkungan yang kurang keras tuntutan disiplinnya.
3. The Disorganised Students
Siswa model ini biasanya akan bermasalah ketika di sekolah yang berhadapan dengan lebih dari satu guru karena mereka harus bertanggung jawab terhadap pelajaran yang berbeda serta guru yang berbeda pula.
4. The Manipulative Student
Manipulative student akan dengan sengaja menghindari mengerjakan tugasnya. Siswa model ini juga seolah selalu siap dengan jawaban yang menyakinkan jika ditanya tentang tugasnya yang tidak selesai.
5. The Here today gone tomorrow student
Dengan manisnya ia berangkat ke sekolah dengan diantar oleh orang tuanya ataupun pengantarnya. Namun ketika kendaraan yag mengantarnya itu menghilang, dia pun berputar arah dan bertemu dengan teman-temannya membuat rencana kegiatan lain yang akan mereka lakukan hari itu.
6. The Rebellious Student
Siswa dengan model ini sebenarnya cukup pandai untuk memahami apa yang sebenarnya harus dilakukan, namun juga sangat pandai membuat berbagai alasan untuk menentangnya atau menghindari tugasnya.
Montgomery, memasukkan underachievement dalam underfunctioning. Menurutnya, seorang anak dapat dikatakan underfunctioning bila memiliki lima dari indikator yang ada di bawah ini, yaitu:
- Adanya pola yang tidak konsisten pada pencapaian dalam tugas-tugas sekolah
- Adanya pola yang tidak konsisten pada pencapaian pada mata pelajaran tertentu
- Adanya ketidakcocokan antara kemampuan dan pencapaian karena kemampuan yang dimiliki ternyata lebih tinggi
- Konsentrasi yang kurang
- Suka melamun atau mengkhayal di dalam kelas
- Terlalu banyak melawak di dalam kelas
- Selalu mempunyai strategi untuk menghindari pengerjaan tugas sekolah
- Kemampuan belajar yang rendah
- Kebiasaan belajar yang tidak baik
- Sering menghindar dan tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah
- Menolak untuk menuliskan apa pun
- Terlalu banyak aktivitas dan gelisah atau tidak bisa diam
- Terlalu kasar dan agresif atau terlalu submisif dan kaku dalam bergaul
- Adanya ketidakmampuan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan sosial dengan teman sebaya
- Adanya ketidakmampuan untuk menghadapi kegagalan
- Adanya ketakutan dan menghindar dari kesuksesan
- Kurang mampu untuk menggali pengetahuan yang dalam tentang diri dan orang lain
- Kemampuan berbahasa yang rendah
- Terus berbicara dan selalu menghindar untuk mengerjakan sesuatu
- Merupakan bagian dari kelompok minoritas
Dari pendapat di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa tidak semua anak yang memiliki nilai yang jauh dari harapan adalah anak yang tidak pintar (bodoh). Boleh jadi mereka adalah siswa yang mempunyai problem underachievement yang harus ditangani dengan baik. Justifikasi bahwa seorang siswa tidak bisa atau tidak pintar selayaknya dihindari, karena pada umumnya siswa itu mempunyai kemampuan, hanya belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Maka menjadi tugas guru dan konselor untuk memberikan motivasi serta treatment agar siswa underachiever mampu memanfaatkan kemampuannya secara maksimal.
|